AKHLAK TERPUJI
Akhlak ( أَخْلاَقٌ) berasal
dari bahasa Arab jama’ dari “Khuluqun”( خُلُقٌ )
yang diartikan adat kebiasaan,perangai,tabi’at,watak, adab/sopan santun,dan
agama.
Akhlak adalah kebiasaan, kehendak itu bila
membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu disebut akhlak. Jadi, pemahaman akhlak
adalah seseorang yang mengerti benar akan kebiasaan perilaku yang diamalkan
dalam pergaulan semata-mata taat kepada Allah dan tunduk kepada-Nya. Oleh
karena itu seseorang yang sudah memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan
timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, fikiran, perasaan, bawaan dan
kebiasaan yang menyatu. Membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati
dalam kenyataan hidup keseharian. Semua yang telah dilakukan itu akan
melahirkan perasaan moral yang terdapat didalam diri manusia itu sendiri
sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Akhlak terpuji diantaranya adalah:
Husnudzon
1.
Pengertian Husnudzan
Husnudzon adalah “sikap
atau keadaan jiwa yang berprasangka baik”. Orang yang mempunyai sikap husnudzon
berarti orang senantiasa berprasangka baik, kepada sesama atau segala keputusan
(takdir) Allah SWT. Maksudnya seluruh ucapan dan ragam gejala yang Nampak pada
tingkah laku seseorang diterima sebagaimana adanya tanpa diiringi dugaan-dugaan
yang tidak baik, begitupun pula bila segala sesuatu yang tidak tercapai maka
sikapnya tidak akan menjauh dari Allah SWT.
Sifat husnudzon merupakan salah satu sifat terpuji, keuntungan dari sifat ini yaitu dapat menahan diri, tidak terlalu mudah memberikan penilaian yang salah atau negative, yang diakibatkan sifat dan tingkah laku orang lain, lebih-lebih kepada segala keputusan, sifat husnudzon selalu diliputi ketenangan dan ketentraman serta kedamaian. Jauh dari perasaan gelisah, was-was dan khawatir serta sakit hati.
Sifat husnudzon merupakan salah satu sifat terpuji, keuntungan dari sifat ini yaitu dapat menahan diri, tidak terlalu mudah memberikan penilaian yang salah atau negative, yang diakibatkan sifat dan tingkah laku orang lain, lebih-lebih kepada segala keputusan, sifat husnudzon selalu diliputi ketenangan dan ketentraman serta kedamaian. Jauh dari perasaan gelisah, was-was dan khawatir serta sakit hati.
2.
Husnudzan kepada Allah
Maksudnya adalah berbaik sangka terhadap apa
saja yang dikehendaki dan ditakdirkan oleh Allah. Manusia tidak boleh berburuk
sangka kepada Allah. Sebab, Allah zat yang maha bijaksana terhadap hamba-Nya.
Sikap husnuzan kepada Allah harus selalu
ditunjukan meskipun seseorang mengalami kegagalan. Memiliki anggapan bahwa
Allah tidak adil,kejam, merupakan perbuatan yang tidak terpuji dan tidak pantas
dilakukan oleh orang-orang yang beriman.
Wujud dari sikap dan prilaku
yang mencerminkan husnuzan kepada Allah antara lain :
a. Selalu mensyukuri nikmat Allah
b. Bersabar apabila tertimpa musibah
c. Optimis dalam menghadapi hidup ini
d. Tidak mudah putus asa
3.
Husnudzan terhadap diri sendiri
Adalah berprasangka baik
terhadap dirinya sendiri. Apa saja yang ada pada diri sendiri dapat diterima
dengan baik, tidak merasa kurang. Selain itu, juga percaya pada kemampuan
sendiri dan selalu bersikap optimis dalam menghadapi masalah.
Dalam kehidupan sehari-hari
kita dapat menemukan sebagian orang yang merasa tidak puas dengan keadaan
dirinya sendiri. Misalnya, merasa ukuran tubuh tidak ideal, matanya kurang
indah, dan sebagainya.
Untuk memenuhi keinginannya, maka ditempuhlah
usaha untuk menyempurnakan diri. Misalnya, dengan cara operasi.
Sikap
yang demikian menunjukan ketidak puasan terhadap nikmat Allah. Disamping itu
dapat diartikan tidak adanya rasa syukur atas karunia Allah. Padahal semua yang
diciptakan Allah pada diri kita tentulah yang terbaik bagi kita. Allah
berfirman:
Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “yaTuhan tidaklah engkau
menciptakan semua ini dengan sia-sia, maha suci engkau lindungilah kami dari
azab neraka”. (QS. Ali imran/3:191)
Wujud
sikap husnuzan terhadap diri sendiri antara lain:
a. Mensyukuri nikmat Allah atas keadaan diri sendiri
b. Menjaga dan merawat jasmani dan rohani dengan baik
c. Percaya diri
4.
Husnudza terhadap sesama manusia
Allah swt menciptakan manusia dalam berbagai
suku bangsa dengan tujuan agar saling mengenal. Dengan saling mengenal akan
dapat diketahui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Allah berfirman:
Artinya: “wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan membuat Anda bangsa dan suku-suku
yang mungkin Anda mengenal satu sama
lain. Memang, yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling benar dari Anda. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mengenal”. (QS. Al Hujarat/49:13)
Husnudzan
terhadap sesama manusia juga mengandung arti tidak berprasangka buruk, curiga
kepada orang lain. Belum tentu orang yang dianggap buruk itu lebih rendah dari
kita.
Wujud dan sikap husnudzan
terhadap sesama manusia antara lain:
a. Tidak suka mencurigai orang
tanpa alasan
b. Menghargai orang lain
c. Adil dalam menilai orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar